Rusunawa KS Tubun Dekatkan Pendonor Dengan Budaya Betawi

Rusunawa KS Tubun Dekatkan Pendonor Dengan Budaya Betawi

Kota Bambu, Jakarta Barat. Hujan sejak pagi ternyata tidak mengurangi animo penghuni Rusunawa KS Tubun dan masyarakat sekitar untuk meramaikan acara Donor Darah besutan Betawi Rume Numpuk (BRN) hari ini, Sabtu (28/1/2023).

Rume numpuk dalam bahasa Betawi artinya kira-kira pemukiman yang tersusun secara vertikal alias rumah susun. BRN menjadi wadah berkreativitas para penghuni Rusunawa KS Tubun, khususnya kreativitas di bidang seni dan budaya. 

'Karena di Jakarta, budaya yang diangkat tentu saja budaya Betawi," kata Muklis Obeng, MC acara yang sudah malang melintang di berbagai acara kebetawian. Makanya ada dendang lagu dan tari Betawi, hingga bazar makanan khas Betawi.

"Ini untuk kedua kalinya kami menyelenggarakan donor darah, pertama kali tahun lalu," bilang Donal Sofian, Koordinator Acara, mewakili panitia Betawi Rume Numpuk. Dengan adanya hiburan dan bazar, Donal berharap masyarakat tertarik datang ke lokasi dan mendonorkan darahnya.

Tambahan dari Donal, konsep agendanya memang memadukan panggilan kemanusiaan dengan hiburan (entertainment). Konsep ini akan jadi benchmark BRN dalam penyelenggaraan donor darah berikutnya. "Mulai tahun ini, doakan kita bisa bikin tiga bulan sekali," ujarnya mantap.

Hadir di acara itu, Anggota Pengurus PMI DKI Jakarta Iswadi dan Ketua PMI Jakarta Barat Beky Mardani beserta jajaran pengurus.

Penyelenggaraan donor darah di rusunawa cukup potensial. Rusunawa KS Tubun misalnya, memiliki 3 tower berisi total 524 unit tempat tinggal.  Penghuninya tercatat 1.898 jiwa. Tak heran jika pihak panitia berani menargetkan pendapatan200 kantong darah untuk penyelenggaraan donor darah kali ini.

Meski hingga ujung acara, tercatat ada 100 orang pendaftar, dengan perincian 67 orang berhasil diambil darahnya. Sisanya terhalang kondisi kesehatan.

Antusiasme penghuni Rusunawa KS Tubun cukup tinggi. Sejak pagi, meja pendaftaran telah diantre. Seorang penghuni rusun, Nurhayati (51 tahun), bahkan mengaku baru kali ini menjadi donor darah. "Karena lokasinya deket banget dengan rumah, jadi saya berani mencoba," jelas Nurhayati.

Seraya menambahkan, "Awalnya saya takut, karena baru pertama kali donor darah. Nervous pasti, tapi setelah menjalani prosesnya, ternyata enggak semenakutkan seperti yang saya pikirkan," imbuh perempuan paruh baya ini. (icul)