Catatan Ringan: Buniaga dan Senyum Yang Kembali Mengembang

Catatan Ringan: Buniaga dan Senyum Yang Kembali Mengembang

Ciherang, Cianjur. Ada yang berbeda di Buniaga Okong, sebulan lalu dan kini. Salah satunya optimisme yang mulai tampak di wajah mereka.

Buniaga Okong adalah sebuah kampung di Desa Ciherang, Cianjur. Okong, konon diambil dari nama salah seorang tokoh atau mukimin awal kampung tersebut, puluhan tahun (bahkan mungkin ratusan tahun) lalu. Saat gempa melanda Cianjur, sekitar 30-an kepala keluarga di kampung itu terdampak. Dari puluhan rumah, hanya 4-5 saja yang bertahan, sisanya dibuldozer lantaran dianggap berbahaya untuk kembali ditempati.

Ketika PMI Jakarta Barat pertama kali mengunjungi dan menggelar bakti sosial di Kampung Buniaga, 26 Desember 2022 lalu, bertepatan dengan peringatan Hari Relawan PMI, senyuman warga di sana masih tertahan oleh beratnya himpitan ketidakpastian akan nasib mereka. Kini, senyum itu pelan-pelan mulai mengembang.

Akhir tahun lalu, sebagian besar warga masih khawatir apakah rumah mereka bakal kembali dibangun seperti semula. Mengingat belum ada kepastian kapan rumah mereka akan dibangun kembali oleh Pemerintah Kabupaten. 

Bahkan hunian sementara (Huntara) yang dibangun PMI Jakarta Barat pun saat itu masih belum cukup untuk menampung seluruh kepala keluarga terdampak gempa di Buniaga Okong. Sehingga beberapa keluarga terpaksa menghuni bangunan yang sebelum gempa diperuntukkan sebagai tempat menyemai tanaman produktif.

Belum ada juga tempat penampungan air (toren) yang memadai. Plus ada juga keluhan soal tempat tidur yang tidak nyaman. Maklum, kondisi Huntara memang tidak memungkinkan memasukkan baryak barang.

Hari ini, Jumat (27/1/2023) ini, ketika kami kembali ke Buniaga Okong untuk kali kedua, melaksanakan Karya Bakti Kemanusiaan bertajuk "Cianjur Bangkit Bersama", pelan-pelan senyuman mulai mengembang di wajah warga. Per hari ini, semua warga sudah mendapatkan Huntara. Hari ini juga mereka mendapatkan bantuan kasur dan logistik lainnya dari PMI Jakarta Barat, yang dikumpulkan dari hasil sumbangan para donatur.

Yayah, seorang perempuan paruh baya asli Buniaga misalnya, begitu sumringah karena kini dapat membuka warung persis di depan Huntara yang ditempatinya. "Lumayan, Pak, bisa buat tambahan biaya hidup sehari-hari," jelasnya. Tersirat kegembiraan di wajahnya.

Nada optimistis juga disampaikan Gunawan, anak muda yang dapat kembali memaksimalkan rumah penyemaian tanaman produktif, yang terletak tak jauh dari kompleks Huntara. Rumah penyemaian itu kini tak lagi ditempati warga, setelah PMI Jakarta Barat membangun Huntara tambahan. "Kembalinya PMI hari ini bikin saya terharu. Karena PMI enggak seperti yang lain, datang, menyumbang, lalu pergi. PMI datang lagi membawa apa yang memang benar-benar kami butuhkan. Jadi seperti saudara," sebut Gunawan.

Ditanamnya 4 toren (penampungan air bersih) pun membuat warga senang, karena kini mereka punya cadangan air bersih yang cukup memadai untuk kebutuhan sehari-hari. Namun yang paling menggembirakan adalah kabar bahwa Pemerintah Kabupaten sedang berupaya membangun kembali rumah mereka di atas tanah mereka sendiri. 

"Ya, saya dengar sedang pasang pondasi," bilang Nandang dan Iyan, dua warga Buniaga Okong. "Katanya, rumah-rumah sedang dikebut supaya selesai sebelum hari raya. Mudah-mudahan kami bisa berlebaran di rumah baru," harap Nandang dan Iyan.

Tak ada hal yang lebih menggembirakan bagi kami insan PMI, selain melihat senyum warga kembali mengembang. Harapan kembali tumbuh, seperti tumbuh suburnya kembang kol, caisin, cabe, lobak, dan tanaman-tanaman produktif di Kampung Buniaga Okong. (icul)